Saat Berhaji, Haji Dadan Disuruh Pulang, Jabatan Melayang

Saat Berhaji, Haji Dadan Disuruh Pulang, Jabatan Melayang

Masuk episode ke-6, drama BGN. Sambil menunggu konferensi pers dari Kejagung, ada baiknya kita membaca kisah perjalanan Dadan Hidayana pergi haji. Sekarang sudah boleh dipanggil Pak Haji. Saat di Mekah, ia disuruh cepat pulang. Begitu di tanah air, jabatannya melayang. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Untuk pergi haji, Kang Dadan tidak gunakan fasilitas negara. Selama 12 tahun ia menabung sejak 5 Mei 2014. Pada 20 Mei 2026, Dadan bersama istrinya berangkat ke Tanah Suci menggunakan kuota haji reguler Kloter 27 Embarkasi Bekasi.

Dua belas tahun menunggu. Itu bukan antre beli gorengan. Bukan antre konser. Bukan antre diskon akhir tahun. Dua belas tahun adalah waktu yang cukup untuk seorang bayi tumbuh jadi remaja yang sudah mulai membantah orang tuanya.

Lalu tibalah Dadan di Makkah. Di sana tidak ada jabatan. Tidak ada kepala badan. Tidak ada ruang rapat. Tidak ada ajudan.

Yang ada hanya jutaan manusia berpakaian ihram yang bentuknya sama semua. Mau profesor, petani, pejabat, pedagang, semua berubah menjadi manusia biasa yang sama-sama mengangkat tangan memohon kepada Tuhan.

Dadan menjalani seluruh rangkaian ibadah. Wukuf di Arafah berjalan lancar. Mabit terlaksana. Lempar jumrah selesai. Bahkan ia sempat berkunjung ke Sekolah Indonesia Jeddah dan mewacanakan program MBG untuk anak-anak pekerja migran Indonesia.

Mungkin saat itu beliau berpikir hidup sedang baik-baik saja. Ternyata langit sedang menyiapkan bab berikutnya. Di tengah suasana haji yang penuh doa dan harapan, datang panggilan dari Indonesia.

Bukan panggilan video. Bukan panggilan reuni. Panggilan Presiden. Prabowo meminta Dadan pulang lebih cepat karena ada agenda besar pada 2 dan 3 Juni 2026. Sebagai bawahan, tentu tidak mungkin menjawab, “Maaf Pak, saya masih antre oleh-oleh.”

Maka tiket komersial dicari. Jadwal dipercepat. Koper ditutup. Dadan meninggalkan Tanah Suci lebih awal demi memenuhi panggilan negara. Ia tiba di Indonesia pada malam 1 Juni 2026.

Besok paginya, 2 Juni, ia sudah berdiri mendampingi Presiden Prabowo meninjau program Makan Bergizi Gratis di Palmerah dan SMPN 111 Jakarta.

Nuan bayangkan adegannya. Pagi masih berdiri di samping presiden. Masih tersenyum. Masih menjalankan tugas. Masih menjadi Kepala BGN. Lalu malam tiba. Seperti petir yang turun tanpa aba-aba, pengumuman datang. Haji Dadan resmi dicopot oleh Prabowo. Tak hanya Pak Haji, bersama dua wakilnya, Lodewyk Pusung dan Sonny Sonjaya juga dilengserkan sang penguasa. Selesai. Tamat. Game over.

Kalau ini pertandingan sepak bola, peluit panjang sudah dibunyikan. Ternyata belum. Karena bab berikutnya jauh lebih liar.

Pukul 02.00 dini hari tanggal 3 Juni 2026, kantor Badan Gizi Nasional di Kebon Sirih digeledah Kejaksaan Agung. Jam dua pagi, Wak. Itu jam ketika setan pun mungkin sedang lembur menghitung dosa manusia.

Jakarta masih gelap. Kucing-kucing liar masih ronda. Tukang bubur belum bangun. Tetapi penyidik sudah bergerak. Belum selesai publik mencerna kabar penggeledahan, dua jam kemudian muncul kejutan baru.

Pukul 04.00 WIB. Haji Dadan, Lodewyk, dan Sonny dijemput untuk menjalani pemeriksaan. Netizen langsung mengalami kondisi medis baru bernama “syok kronis akibat terlalu banyak breaking news.”

Dari Arafah ke Jakarta. Dari thawaf ke evaluasi. Dari mendampingi presiden ke ruang pemeriksaan. Semua terjadi dalam hitungan hari.

Begitulah hidup. Kadang manusia sibuk menyusun rencana lima tahun. Tuhan membalas dengan plot twist lima jam. Hari ini seseorang berdiri di depan Ka’bah membawa doa. Besok berdiri di depan kamera membawa klarifikasi.

Lusa mungkin berdiri di depan penyidik membawa jawaban. Dan jutaan rakyat Indonesia hanya bisa menatap layar ponsel sambil bergumam, “Ini negara atau serial Netflix? Kok episode barunya keluar tiap dua jam?” Nantikan episode berikutnya, jauh lebih panas dari kopi di Asiang Jalan Ayani Pontianak.

Foto Master Berita: AI hanya ilustrasi

 

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM see less

Facebook: Rosadi Jamani