Penulis:
Muhammad Fadhil Khairul Kamil (2501010073)
Muthafa Kamal (2501010106)
Sekar Amadea Putri Wibowo (2501010219)
Salsabila Dwi Seto Hapari (2501010125)

Banjarmasin, iloenxnews.com || Banjir dan tanah longsor yang terjadi di Aceh serta beberapa daerah di Sumatera belakangan ini rasanya seperti kejadian yang terus berulang. Setiap kali bencana datang, banyak orang merasa kaget, padahal sebenarnya tanda-tandanya sudah sering terlihat sejak lama.

Curah hujan tinggi memang bukan hal baru, tetapi dampaknya kini
terasa semakin besar dari tahun ke tahun. Memang benar, hujan deras adalah faktor alam yang tidak bisa kita kendalikan. Namun rasanya tidak adil jika semua kesalahan hanya ditimpakan pada alam. Kerusakan lingkungan, penebangan hutan, dan perubahan fungsi lahan yang dilakukan tanpa perhitungan jelas ikut memperburuk keadaan.

Sungai yang dangkal dan daerah resapan air yang semakin berkurang membuat air hujan tidak bisa mengalir sebagaimana mestinya, sehingga banjir pun sulit dihindari.
Hal yang paling menyayat hati dari bencana ini bukan sekadar
rumah yang rusak atau jalan yang terputus, tetapi nasib masyarakat
yang terdampak langsung. Banyak orang kehilangan tempat tinggal,
mata pencaharian, bahkan orang-orang terdekat mereka. Dalam
kondisi seperti itu, mereka harus bertahan dengan segala keterbatasan,
sementara proses pemulihan sering kali berjalan lambat dan tidak
mudah.

Di sisi lain, rasa kepedulian antar sesama masih terlihat kuat.
Relawan datang membantu, bantuan terus mengalir, dan solidaritas
masyarakat muncul di tengah situasi sulit. Namun, jika setelah
bencana berlalu semuanya kembali seperti semula tanpa ada
pembenahan yang serius, maka bencana yang sama hanya akan
terulang lagi di kemudian hari.

Menurut kami, kejadian di Aceh dan Sumatera ini seharusnya
menjadi bahan refleksi bersama. Pemerintah perlu lebih tegas dalam
menjaga lingkungan dan mengatur pembangunan, sementara
masyarakat juga harus lebih peduli terhadap alam di sekitarnya.

Bencana bukan semata-mata soal hujan deras atau alam yang tidak
bersahabat, tetapi juga tentang bagaimana manusia menjaga dan
memperlakukan lingkungannya.
Jika tidak ada perubahan nyata, bencana seperti ini akan terus
menjadi cerita yang berulang setiap tahun, meninggalkan luka bagi
masyarakat tanpa pernah benar-benar menemukan penyelesaian.
(kelompok 2 matkul pendidkan pancasila prodi ilkom fisip uniska 2025)
