Hari Bakti TNI AU 2026: Sejarah hingga Alasan Diperingati Setiap 29 Juli

Hari Bakti TNI AU 2026: Sejarah hingga Alasan Diperingati Setiap 29 Juli

Banjarmasin, iloenxnews.com || Hari Bakti Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU) diperingati setiap tanggal 29 Juli untuk mengenang perjuangan dan pengorbanan para pelopor Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dalam mempertahankan kemerdekaan.

Peringatan ini memiliki makna khusus karena berkaitan dengan dua peristiwa bersejarah yang terjadi pada 29 Juli 1947, yakni keberhasilan operasi udara pertama AURI serta gugurnya tiga tokoh pelopor angkatan udara Indonesia.


Hingga kini, Hari Bakti TNI AU menjadi momentum untuk mengenang jasa para pahlawan sekaligus meneladani nilai keberanian, patriotisme, pengabdian, dan profesionalisme yang diwariskan kepada generasi penerus TNI Angkatan Udara.

Apa Itu Hari Bakti TNI AU?

Hari Bakti TNI AU merupakan peringatan bersejarah yang dilaksanakan setiap 29 Juli oleh TNI AU. Peringatan ini tidak hanya menjadi ajang mengenang jasa para pendahulu, tetapi juga mengingatkan seluruh prajurit akan pentingnya semangat rela berkorban dalam menjaga kedaulatan wilayah udara Indonesia.


Pemilihan tanggal 29 Juli didasarkan pada dua peristiwa penting dalam sejarah AURI yang terjadi pada hari yang sama pada tahun 1947. Kedua peristiwa tersebut kemudian menjadi tonggak perjuangan angkatan udara Indonesia dan terus dikenang melalui Hari Bakti TNI AU.

Sejarah Hari Bakti TNI AU

Melansir Markas Besar TNI AU Dinas Penerangan, sejarah Hari Bakti TNI AU tidak dapat dipisahkan dari perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.


Pada 1946 hingga awal 1947, Indonesia dan Belanda masih menempuh jalur diplomasi melalui Perundingan Linggajati. Namun, perbedaan penafsiran terhadap hasil perundingan membuat hubungan kedua pihak kembali memanas. Situasi tersebut berujung pada Agresi Militer Belanda I yang dimulai pada 21 Juli 1947.


Dalam agresi tersebut, Belanda melancarkan serangan ke berbagai wilayah Republik Indonesia, termasuk pangkalan-pangkalan udara. Serangan menggunakan pesawat pembom itu menimbulkan kerugian besar bagi Indonesia sekaligus memicu tekad para penerbang AURI untuk memberikan perlawanan.


Operasi Udara Pertama AURI

Di tengah keterbatasan jumlah pesawat, persenjataan, dan personel, para kadet udara mengusulkan agar AURI melakukan serangan balasan terhadap markas Belanda. Usulan tersebut kemudian mendapat persetujuan pimpinan AURI yang dipimpin Kepala Staf Angkatan Udara Komodor Udara Suryadi Suryadarma.


Setelah melalui berbagai persiapan, pada pagi hari 29 Juli 1947 tiga pesawat lepas landas dari Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta. Satu pesawat Guntei diterbangkan untuk menyerang sasaran militer Belanda di Semarang.

Sementara itu, dua pesawat Cureng ditugaskan menyerang Salatiga. Dalam pelaksanaannya, salah satu pesawat Cureng kemudian menjatuhkan bom ke wilayah Ambarawa yang telah diduduki Belanda.


Operasi tersebut berhasil dilaksanakan dan menjadi serangan udara pertama yang dilakukan AURI sejak dibentuk pada 9 April 1946. Keberhasilan itu membuktikan bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan melalui kekuatan udara meskipun dengan sarana yang sangat terbatas.

Gugurnya Tiga Pelopor AURI

Keberhasilan operasi udara pertama AURI itu tidak berlangsung lama. Pada sore harinya, pesawat Dakota VT-CLA yang membawa bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya untuk Palang Merah Indonesia ditembak jatuh oleh pesawat tempur Belanda ketika hendak mendarat di Pangkalan Udara Maguwo.


Pesawat tersebut jatuh di wilayah Ngoto, Yogyakarta, dan menyebabkan gugurnya tiga pelopor AURI, yaitu Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto, Komodor Muda Udara Prof Dr Abdulrachman Saleh, serta Opsir Udara I Adi Sumarmo Wirjokusumo.

Peristiwa tersebut menjadi kehilangan besar bagi Angkatan Udara Republik Indonesia karena ketiganya merupakan tokoh penting yang berperan dalam membangun dan mengembangkan kekuatan udara Indonesia pada masa awal kemerdekaan.


Mengapa Hari Bakti TNI AU Diperingati Setiap 29 Juli?

Tanggal 29 Juli dipilih sebagai Hari Bakti TNI AU karena pada hari itu terjadi dua peristiwa penting yang menjadi tonggak sejarah AURI. Peristiwa pertama adalah keberhasilan operasi udara pertama AURI dalam melancarkan serangan terhadap sasaran militer Belanda di Semarang, Salatiga, dan Ambarawa.


Operasi tersebut menunjukkan semangat juang para penerbang Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Peristiwa kedua adalah gugurnya tiga pelopor AURI akibat ditembaknya pesawat Dakota VT-CLA yang tengah menjalankan misi kemanusiaan membawa bantuan obat-obatan.


Untuk mengenang jasa para pelopor tersebut, sejak 29 Juli 1955 tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Berkabung AURI. Selanjutnya, pada 29 Juli 1962, peringatannya diubah menjadi Hari Bakti TNI AU dan terus diperingati hingga sekarang.


Makna Hari Bakti TNI AU

Hari Bakti TNI AU bukan sekadar mengenang peristiwa sejarah, tetapi juga menjadi pengingat atas nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para pelopor angkatan udara Indonesia.

Melalui peringatan ini, TNI AU meneguhkan semangat pengabdian kepada bangsa dan negara, keberanian dalam menghadapi tantangan, profesionalisme dalam menjalankan tugas, serta kesediaan berkorban demi menjaga kedaulatan wilayah udara Indonesia.


Nilai-nilai tersebut menjadi landasan bagi setiap prajurit TNI AU dalam melaksanakan tugas sekaligus meneruskan semangat juang para pendahulu yang telah mempertaruhkan jiwa dan raga demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Bagaimana Hari Bakti TNI AU Diperingati?

Setiap tahun, Hari Bakti TNI AU diperingati melalui berbagai kegiatan di lingkungan TNI Angkatan Udara. Selain upacara militer, peringatan biasanya diisi dengan berbagai kegiatan berikut: Ziarah ke taman makam pahlawan dan monumen perjuangan, Penghormatan kepada para pelopor AURI, Bakti sosial, Donor darah, Pelayanan kesehatan, Anjangsana kepada keluarga pahlawan dan para purnawirawan.


Beragam kegiatan tersebut mencerminkan makna Hari Bakti TNI AU sebagai momentum untuk mengenang sejarah perjuangan sekaligus memperkuat semangat pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

Hari Bakti TNI AU yang diperingati setiap 29 Juli merupakan pengingat atas perjuangan luar biasa para pelopor AURI dalam mempertahankan kemerdekaan. Keberhasilan operasi udara pertama AURI dan pengorbanan tiga tokoh pelopor yang gugur pada 29 Juli 1947 menjadi fondasi sejarah yang terus dikenang hingga kini.


Melalui peringatan Hari Bakti TNI AU, semangat keberanian, pengabdian, dan patriotisme para pendahulu diharapkan terus hidup dan menjadi inspirasi bagi seluruh prajurit TNI Angkatan Udara dalam menjaga kedaulatan udara Indonesia.

Irma Budiarti – detikJatim
(irb/hil)