Ditulis oleh:
Muhammad Ridho (2501010133)
Niluh Putu Sekar Ayu Puspa (2501010180)
Salsabila Hayati (2501010233)

Banjarmasin, iloenxnews.com || Bencana alam di Aceh dan berbagai wilayah Sumatera merupakan pengingat nyata bahwa Indonesia berada di kawasan yang sangat rawan secara geologis dan klimatologis.
Gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor bukan hanya peristiwa alam semata, tetapi juga ujian bagi kesiapan manusia dalam mengelola lingkungan dan membangun sistem mitigasi yang berkelanjutan.

Tragedi tsunami Aceh 2004 menjadi luka sekaligus pelajaran besar bagi bangsa Indonesia. Dari peristiwa tersebut, terlihat bahwa dampak bencana akan jauh lebih besar ketika kesiapsiagaan, sistem peringatan dini, dan edukasi masyarakat masih lemah. Namun di sisi lain, Aceh juga menunjukkan ketangguhan luar biasa melalui proses pemulihan, solidaritas sosial, dan pembangunan kembali yang relatif cepat.

Di wilayah Sumatera secara umum, bencana yang terus berulang—seperti banjir akibat deforestasi, kebakaran hutan, dan longsor—menunjukkan bahwa faktor manusia sering memperparah risiko alam. Pembangunan yang mengabaikan keseimbangan lingkungan, tata ruang yang buruk, serta lemahnya penegakan hukum menjadi penyebab utama meningkatnya
kerentanan terhadap bencana.

Menurut kami, bencana alam di Aceh dan Sumatera seharusnya mendorong perubahan cara pandang: dari reaktif menjadi preventif. Pemerintah dan masyarakat perlu menempatkan mitigasi bencana sebagai prioritas, mulai dari pendidikan kebencanaan, perlindungan lingkungan, hingga pembangunan yang berbasis risiko bencana. Tanpa itu, bencana akan terus
berulang dengan korban yang semakin besar. Bencana memang tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya bisa dikurangi jika manusia mau belajar dan bertindak lebih bijaksana.
(kelompok 4 makul pendidikan pancasila prodi ilkom uniska 2025)
