Kandangan, iloenxnews.com || Menderita stroke kadang membuat orang patah semangat. Tak hanya semangat hidup, tapi juga semangat untuk tetap berkarya. Namun, hal itu tak berlaku bagi H. Yusri Fauzi, S.Pd (76).

Pensiunan guru Agama Islam di SDN Bakarung, warga Desa Gambah Luar, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), ini justru menghasilkan karya mengagumkan banyak orang.

Ada 3 mushaf Al-Qur’an yang dibuatnya. 2 di antaranya berukuran besar dan tersimpan di Masjid Al Abrar. Masjid ini terletak di seberang rumahnya.

Ditemui iloenxnews.com bersama Pembina, Ketua Umum dan jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Forum Kerukunan dan Pemerhati Warga Kalimantan (FKPWK) Selasa, (7/4/2026) ba’da Sholat Dzuhur berjamaah di masjid tersebut, Yusri menceritakan bagaimana menyelesaikan 3 mushaf itu. Pertama, ditulis pada 2015, dengan ukuran 90×60 sentimeter persegi dengan berat 45 kilogram.

Tulisan kedua pada 2017 sampai 2019. Ukurannya lebih besar, yakni 111×80,5 sentimeter persegi. Beratnya 75 kilogram. Jenis huruf Thulus Nashi dengan Rasam Ustmani. Pembuatan mushaf kedua memerlukan waktu 18 bulan.

Selanjutnya, tulisan ketiga dengan jenis huruf yang sama, dibuat ukuran lebih kecil, yakni 30×60 sentimeter persegi.
“Mushaf Al-Qur’an tulisan tangan terakhir untuk disimpan di rumah. Saya baca tiap habis sholat 5 waktu sebanyak 2 lembar. Alhamdulillah, bisa khatam tiap 2 minggu sekali,” tuturnya.

Proses menulis ketiga mushaf itu memanfaatkan waktu luang. Sambil menunggu waktu sholat 5 waktu. Kegiatan menulis Al-Qur’an dimulai pukul 04.00 Wita.
Setiap mushaf menghabiskan 300 lembar kertas jenis karton mengkilap. Kertas jenis King street berukuran plano tersebut dia beli secara cicilan di sebuah toko Alat Tulis Kantor (ATK) di Banjarmasin. Semuanya dengan uang sendiri.

Namun, Yusri tak bisa memastikan berapa uang yang dikeluarkan untuk karyanya itu. Selain beli bahan secara cicilan, dia merasa tak perlu menghitungnya.
Selama proses penulisan, tak ada kendala. Hanya, sebelum menulis ayat-ayat Al-Qur’an, Yusri membuat bingkai pada kertas serta detail lainnya.

“Kesulitan saya hanya di sini. Sebab, hanya menggunakan sebelah tangan kiri. Saya sendiri tidak kidal sebelum terkena stroke,” katanya.
Karena ukurannya begitu besar, memerlukan kesabaran dan ketelatenan. Yusri tetap harus membuatnya dengan rapi seperti huruf Al-Qur’an versi cetak. “Alhamdulillah, akhirnya saya diberi kemudahan,” kata Pemimpin Majelis Zikir, Serikat Kematian dan Wattaalim Al Abrar ini.

Ketua Umum DPP FKPWK Advokat H. Rachmad Fadillah, S.H. (ketiga dari kiri) menghargai dan mengapresiasi tulisan tangan Al Qur’an tersebut. Yang menunjukkan kecintaan Bapak H. Yusri Fauzi pada Al Quran dan mengimplementasikan bahwa beliau berikhtiar ikut merawat dan memelihara Al Quran.

“Apa yang dilakukan Pak H. Yusri Fauzi merupakan bagian khasanah yang melekat dalam setiap muslim secara kolektif, yang dimana Al Qur’an dapat dijaga keasliannya,” ucap Fadillah.
Senada, Pembina DPP FKPWK Junaidi (foto utama atas: kanan) juga mengatakan, Bapak H. Yusri Fauzi telah menggambarkan kegigihan dan kecintaan beliau terhadap Al Qur’an.

“Tidak banyak orang yang tekun, gigih untuk membikin tulisan Al Qur’an, bahkan dalam kurun waktu 1 tahun 6 bulan (550 hari). Mudah-mudahan ini menjadi amal jariyah sidin (beliau), dan menjadi contoh bagi kader generasi muda untuk mencintai Al Qur’an dengan selalu membaca, menulis dan merawatnya sebagai kitab suci,” pungkas Junaidi.
(ichal iloenx)
