29 TAHUN KERUSUHAN 23 MEI BANJARMASIN, JUNAIDI FKPWK SAMPAIKAN PESAN

29 TAHUN KERUSUHAN 23 MEI BANJARMASIN, JUNAIDI FKPWK SAMPAIKAN PESAN

Banjarmasin, iloenxnews.com || Tragedi Kerusuhan 23 Mei 1997, yang dikenal sebagai “Jumat Kelabu”, adalah salah satu lembaran paling kelam dalam sejarah Kota Banjarmasin dan Indonesia. Peristiwa ini menyisakan duka dan trauma mendalam yang terus dirawat sebagai pengingat akan pentingnya toleransi dan persatuan.

Berikut adalah catatan sejarah penting dari peristiwa berdarah tersebut:

Pemicu Konflik

Kerusuhan bermula dari kampanye politik Pemilu 1997 yang berujung pada bentrokan antar-massa pendukung partai politik di Kota Banjarmasin.

Gelombang massa saat melintas di depan Kantor Surat Kabar Harian (SKH) Banjarmasin Post, Jalan Haryono MT sekarang Indomaret Bundaran Iwak Kalabau Banjarmasin.

Dampak dan Korban Jiwa

Insiden ini memakan korban jiwa dan kerusakan yang luar biasa. Berdasarkan catatan Tim Pencari Fakta Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), sedikitnya 123 orang tewas, 118 luka-luka, dan 179 orang dinyatakan hilang.

Makam massal korban Kerusuhan 23 Mei 1997 di Pemakaman Umum Pemerintah Kota Banjarmasin, Jalan Jendral Ahmad Yani Paal 21, Liang Anggang, Banjarbaru.

Kerusakan Fisik

Fasilitas publik seperti pusat perbelanjaan, hotel, perkantoran, pertokoan, dan ratusan kendaraan luluh lantak dibakar massa. Salah satu saksi bisu sejarah ini yang masih membekas di pusat kota adalah bangunan bekas Junjung Buih Plaza.

Aksi penjarahan ba’da Sholat Jum’at di Lima Cahaya Departemen Store, Jalan Pasar Baru Banjarmasin. Para penjarah menggunakan kantong plastik kresek belanja berlogo Lima Cahaya. (foto; ichal iloenx)
Suasana saat penjarahan di Lima Cahaya Departemen Store. Kondisi di dalam store sudah gelap karena sudah tidak ada aliran listrik. Foto ini diambil menggunakan blitz dengan kamera Fuji MDL 5. (foto: ichal iloenx)
Usai isinya ludes dijarah, Lima Cahaya Departemen Store lalu dibakar beserta bangunan di sampingnya yaitu Sarikaya Supermarket, bioskop Banjarmasin Theater dan Super Hall.
Mitra Plaza (foto atas), Junjung Buih Plaza (foto bawah)

Refleksi dan Menolak Lupa

Hingga saat ini, peristiwa tersebut masih menjadi duka kolektif yang diperingati setiap tahunnya oleh mahasiswa dan elemen masyarakat Kalimantan Selatan melalui aksi damai dan tabur bunga, dengan harapan agar tragedi kelam ini tidak pernah terulang kembali.

Puing Mitra Plaza, difoto Sabtu 24 Mei 1997

 

Mitra Plaza hari ini saat aksi mahasiswa Kalsel dalam “Menolak Lupa”, Sabtu 23 Mei 2026. (foto: Syahrianto Ruslan)

Pembina Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Forum Kerukunan dan Pemerhati Warga Kalimantan (FKPWK) Junaidi menyatakan tragedi kelam Banjarmasin ini sangat membuat terenyuh. ‘Kami menyampaikan duka yang mendalam kepada keluarga para korban tragedi 23 Mei 1997 yang tak berdosa. Semoga arwahnya tenang di alam baka. Kita sama-sama saling mengingatkan jangan sampai kejadian ini terulang kedua kalinya dan seterusnya,” ujarnya.

“Kami juga mendorong publik untuk menjaga persatuan meski berbeda pandangan politik, karena ihwal perbedaan saat itulah yang membuat kita mudah diadu domba lalu terprovokasi hingga meletus kerusuhan,” pungkas Junaidi.

(ichal iloenx)