Sekeping Asa di Kampung Sasirangan

Ayu bersama ibunya duduk di pelataran rumahnya.

Duduk di pelataran rumah kayu, dua perempuan beda zaman tersentak ketika iloenxnews.com memberi salam. Di sebuah gang kecil itu hanya bisa dilalui ukuran dua motor berselisihan. Meski termasuk kampung tua di Banjarmasin, tempat itu adalah sentra produksinya kain sasirangan, Jalan Seberang Mesjid.

 

Banjarmasin, iloenxnews.com || Di kawasan tersebut, kita bisa menjumpai berbagai toko yang menjual sasirangan dalam beragam bentuk, mulai dari kain, pakaian, selendang, seprai, taplak meja, tas, sandal, dompet, hingga saputangan. Selain berbelanja, kita juga bisa sekalian berkunjung ke salah satu perajin sasirangan di kampung tersebut untuk melihat proses pembuatannya.

Dua perempuan yang ditemui wartawan ini ialah Gusti Sri Rahayu (47) kelahiran Bandung, Jawa Barat dan ibunya Sugiyem (80) kelahiran Purworejo, Jawa Tengah. Mereka tinggal di sebuah rumah di Jalan Seberang Mesjid Gang 2 Syazali RT 05 RW 01 Nomor 05B Kelurahan Seberang Mesjid, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Ayu, panggilan akrab Gusti Sri Rahayu sejak kelas 6 SD sudah
menggeluti ikut memproses kain batik khas Banjar ini. “Saya dulu
ikut-ikutan melihat ibu yang tiap hari mengambil upah mengerjakan
pembuatan kain sasirangan. Sampai sekarang saya yang meneruskan pekerjaan ini, karena ibu sudah renta tidak bisa lagi beraktifitas,” tutur puteri Almarhum Gusti Sulaiman, purnawirawan TNI ini.

Kampung Sasirangan Gang 2 Syazali, Seberang Mesjid, Banjarmasin Tengah. (foto: ichal)

Diketahui, di kampung ini sejak zaman dulu banyak warga yang bermata pencaharian sebagai pengrajin sasirangan. Mereka
mengambil upah dari proses mempola motif, menjahit, meikat warna, mencelup hingga melepasi benang.

Pola motif sasirangan. (foto: ichal)
Menjelujur/menjahit kain agar warna bisa diikat. (foto: ichal)
Proses pencelupan kain ke cairan pewarna. (foto: ichal)

Seperti namanya, yakni ‘sa’ yang berarti ‘satu’ dan ‘sirang’ yang
berarti ‘jelujur’, sasirangan dibuat dengan teknik jelujur, lalu diikat dengan benang atau tali dan dicelup ke pewarna. Banyak yang
menyebutnya sebagai batik Banjar, padahal proses pembuatannya tak sama dengan batik yang menorehkan malam dengan canting.

Bahan dasarnya sendiri awalnya berupa benang kapas atau serat kulit kayu. Namun seiring perkembangan zaman, bahan tersebut digantikan oleh sutra, satin, rayon, dan sebagainya. Pewarnanya pun tak lagi hanya menggunakan bahan-bahan alami, karena kini banyak perajin yang memanfaatkan pewarna sintetis.

Motif kain sasirangan banyak, mulai dari sari gading yang digunakan untuk ritual, gigi haruan dan bayam raya yang tradisional, hingga jajumputan, bintang, dan daun katu yang modern.

Penulis saat melihat langsung akhir dari proses pencelupan ke cairan pewarna.

Biasanya, wisatawan lebih menyukai motif gradasi yang merupakan perpaduan motif tradisional dengan motif kreasi seperti bunga, laba-laba, dan sebagainya. Pasalnya, motif tersebut lebih menarik dan
bervariasi.

Harga kain sasirangan tergantung tingkat kerumitan motif maupun
bahannya, yakni berkisar mulai puluhan ribu hingga ratusan ribu
rupiah.

“Harga jual kain sasirangan bervariasi. Tergantung bahan dan tingkat kesulitan motif. Katun satin biasa dibanderol Rp110ribu perpotongnya. Sepotong ukurannya 1×2 meter. Sementara bahan polisima 90ribu, katun sutra 200ribu, jika plus bordir 250rb,” terang Ayu.

“Sebelum covid penjualan bagus dan harga stabil saja. Setelah era
covid berakhir, di saat kami mau bangkit dari keterpurukan, ternyata
semua harga bahan baku meroket. Mulai dari obat pewarna, kain dan
lainnya. Daya beli konsumen otomatis turun, dan mereka jika datang ingin membeli selalu ingin murah, di sini kami tidak sanggup
bertahan,” curhat Ayu.

“Memang dulu beberapa tahun lalu pernah ada pembinaan pemerintah dari dinas perdagangan, cuma sekarang tidak pernah lagi. Pernah juga ada bantuan dari dinas sosial berupa kompor dan panci. Nah, yang belum ada bantuan bahan
baku. Karena itu yang menjadi kendala utama kami. Kami berharap ada perusahaan atau pihak perbankan yang bersedia mengucurkan CSRnya kepada kami. Kami siap menjadi UMKM binaan dari mereka,” kata Ayu yang dulu sebelum era covid pernah diajak mengikuti expo kerajinan di Jakarta dan Yogyakarta.

Di sisi lain, yang menjadi ancaman bagi mereka adalah maraknya serbuan kain sasirangan printing. “Kain sasirangan printing menghambat penjualan sasirangan. Karena sasirangan printing pembuatannya dari mesin pabrikan sudah pasti harganya jauh lebih murah, sedangkan kami dibuat dengan cara manual ditambah mahalnya bahan baku,” pungkas pemilik usaha Ayu Sasirangan ini.

Semoga ada pihak yang peduli, demi kelangsungan pelestarian kain warisan turun temurun sejak abad XII, pada saat Lambung Mangkurat menjadi Patih Negara Dipa ini.

(ichal iloenx)