

Kematian yang Mempertemukan Kembali Dua Kutub
Cerita bermula dari wafatnya Mbah Siyem (Sri Isworowati), salah satu penghuni Dusun Wangun. Kepergian sang nenek memaksa dua cucu kembar yang telah lama bermusuhan—Hestu (Angga Yunanda) dan Akbar (Dodit Mulyanto)—untuk kembali bertemu.

Meski kembar, wajah dan pembawaan mereka bertolak belakang secara ekstrem. Film ini bahkan tak merasa perlu menjelaskan perbedaan tersebut. Dan memang, sejak kapan komedi wajib tunduk pada logika? Naskah garapan Fajar Martha Santosa dan Sandi Paputungan memilih mengabaikan rasionalitas demi efektivitas humor, meski sebenarnya masih ada ruang untuk mendorong absurditas lebih jauh.

Ancaman Tujuh Hari dan Horor yang Berisik
Alih-alih mendapat ketenangan setelah pemakaman, Hestu dan Akbar justru diteror arwah Mbah Siyem yang menampakkan diri sambil berpesan bahwa ia akan “menjemput” mereka dalam tujuh hari. Bersama Kotrek (Oki Rengga), preman kampung yang setia kawan, serta Nisa (Wavi Zihan), cinta lama Hestu semasa kecil, mereka berusaha menggagalkan takdir tersebut.

Presentasi horornya sendiri terbilang generik: penampakan yang ramai, suara keras, dan formula yang sudah akrab bagi penonton film horor lokal. Namun memang, memodifikasi pakem horor bukan misi utama film ini. Kekurangan tersebut ditutup oleh banyolan kreatif dengan gaya “semau sendiri” khas komedi tongkrongan Jawa, termasuk kejutan kecil di adegan kredit yang sukses mengecoh ekspektasi.

Bagaimana kesudahan cerita horor komedi ini? Yuk, saksikan hari ini juga Selasa (27/1/2026) di Bioskop Studio XXI Duta Mall Banjarmasin.
(nyalanusantara.com)
