Banjar, iloenxnews.com || Semangat kurban sejatinya telah ada sejak zaman Nabi Adam AS, menjadikannya salah satu ibadah tertua dalam sejarah manusia. Ini bukan hanya soal menyembelih hewan, melainkan tentang keikhlasan dan ketakwaan tertinggi kepada Allah SWT.

Hal ini disampaikan oleh Al Ustadz Muhammad Rijal Fathoni, S.Pd.I pada acara Pengajian Rutin di Majelis Ta’lim Raudhatul Muhibbin, di Kediaman H. Junaidi, Jalan Martapura Lama Paal 7,8 Komplek Persada Raya 2 Jalur 4, Nomor 9 RT. 11 B, Kelurahan Sungai Lulut, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kamis (14/5/2026) malam bertepatan dengan 28 Dzulqaidah 1447 H.

Cerita bermula ketika Qabil dan Habil adalah putra dari Nabi Adam dan Siti Hawa yang masing-masing dilahirkan dengan memiliki seorang kembaran perempuan. Qabil dilahirkan bersama kembaran perempuan yang anggun dan mempesona, sementara kembaran Habil sebaliknya. Kemudian, Nabi Adam menerapkan kebijakan untuk menikahkan keduanya secara silang.

Qabil dinikahkan dengan kembaran Habil yang tidak secantik kembarannya dan Habil mendapatkan kembaran Qabil. Qabil yang merasa dirinya jauh lebih baik daripada adiknya dan tidak terima dengan pembagian perjodohan tersebut mengajukan protes kepada Nabi Adam.

Qabil berkata, “Aku lebih berhak terhadapnya (kembaran Qabil) dan dia (Habil) lebih berhak terhadap saudaranya (kembaran Habil). Ini bukanlah ketentuan Allah, melainkan pendapatmu sendiri”. Kemudian sebagai kepala keluarga, Nabi Adam memberikan solusi atas protes yang diajuakan oleh Qabil.

Nabi Adam memerintahkan kedua anaknya untuk berkurban. Kurban siapa yang diterima oleh Allah, maka lebih berhak terhadap kembaran Qabil. Qabil adalah seorang petani dan Habil seorang peternak. Sudah menjadi kebiasaan bagi keduanya untuk melakukan kurban, Qabil dan Habil pun berkurban dengan apa yang mereka punya.

Kisah Qabil dan Habil yang sesuai Al-Quran dan Hadits menjelaskan di dalam tafsir yang ditulis Ar-Razi, diterangkan bahwa Qabil berkurban jagung jelek dan Habil berkurban dengan kambing jantan yang sehat dan besar. Ternyata, kurban yang dipersembahkan Habil habis dilalap api dan kurban milik Qabil tidak tersentuh api sama sekali. Pada waktu itu, api yang muncul melalap kurban merupakan simbol dari Tuhan.

Jika kurbannya dilalap api, artinya kurban tersebut diterima oleh Allah. Melihat kurbannya sama sekali tidak tersentuh api, Qabil sangat murka terhadap Habil karena kembarannya yang cantik akan menikah dengan adiknya, Habil.

Selanjutnya kali pertama, Kurban Nabi Ibrahim AS adalah perintah Allah SWT melalui mimpi untuk menyembelih putra tercintanya, Nabi Ismail AS, sebagai ujian keimanan dan ketaatan. Saat Nabi Ibrahim hendak menyembelih, Allah mengganti Ismail dengan seekor kambing jantan besar dari surga, yang menjadi dasar syariat ibadah kurban pada Idul Adha.
“Kambing yang diturunkan pengganti Ismail saat itulah kambing kurban milik Habil saat di zaman Nabi Adam AS,” pungkas Ustadz Rijal.

H. Junaidi, selaku Ahlul Bait mengungkapkan kegembiraannya atas suksesnya pengajian rutin bulanan kali ini. “Terima kasih kepada para jamaah semuanya tak terkecuali, yang telah menyempatkan hadir di acara rutin bulanan ini, tanpa kehadiran kalian acara ini tak akan berjalan lancar,” kata Pembina Dewan Piminan Pusat (DPP) Forum Kerukunan dan Pemerhati Warga Kalimantan (FKPWK) ini.

Malam ini, lanjut Junaidi, kita berkumpul di dalam majelis ini dengan niat ikhlas dan tulus menuntut ilmu sekaligus jelang momen Hari Raya Idul Adha 1447 H, agar ada hikmah yang bisa dipetik tentunya.
“Acara pengajian rutin bulanan ini sebagai bentuk rasa syukur dan cinta, pengingat, dan sebagai alat meneladani sikap dan akhlak junjungan kita yakni Nabi Muhammad SAW, serta mengenalkannya kepada generasi muda lewat pembacaan shalawat, ceramah, dan lainnya,” sambungnya.

“Diharapkan dengan adanya pengajian rutin bulanan ini kita kembali memiliki semangat juang dalam beribadah kepada Allah, dan mempertahankan akidah dan akhlak kita,” pungkas Junaidi.
Acara ditutup dengan doa bersama dipimpin Habib Husein bin Ali Assegaf.
(ichal iloenx)

