Banjar, iloenxnews.com || Pelestarian budaya harus dibarengi dengan perhatian pemerintah melalui pembinaan dan pengembangan potensi yang dimiliki masyarakat adat.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Forum Kerukunan dan Pemerhati Warga Kalimantan (FKPWK) Adv. H. Rachmad Fadillah, S.H. (Kompol Purn) pada momen pelaksanaan Aruh Adat Dayak Paramasan di Dusun Pal 13 Desa Paramasan Bawah, Kecamatan Paramasan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel) yang berlangsung selama 9 hari sejak Senin (29/6) sampai Rabu (8/7/2026).
Lebih lanjut, Fadillah mengatakan pelestarian budaya masyarakat adat tidak hanya menjadi tanggung jawab komunitas adat, tetapi juga membutuhkan dukungan berbagai elemen masyarakat.
Komitmen itu ditunjukkan DPP FKPWK dengan ditunjukkan kehadiran rombongan FKPWK dipimpin Pembina DPP FKPWK Junaidi, didampingi Ketua Dewan Penasihat Dr. Drs. Akhmad Murjani, SH, M.Kes., S.H., M.H.
Dari kanan ke kiri: Adv. H. Rachmad Fadillah, SH, (Kompol Purn)., Junaidi, Soleh Priyanto saat berada di Balai Adat Dayak.(foto: busu)
Selain menyaksikan prosesi adat, mereka juga berdialog dengan tokoh masyarakat mengenai pentingnya menjaga warisan budaya yang masih lestari hingga kini.
Ketua Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Banjar, Robby, mengatakan Aruh Adat merupakan tradisi tahunan yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Dayak Paramasan.
Robby.(foto: busu)
Ritual tersebut menjadi ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen sekaligus menjadi ruang memperkuat nilai gotong royong, persaudaraan, penghormatan kepada leluhur, dan kepedulian terhadap alam.
“Tradisi ini bukan sekadar acara seremonial. Di dalamnya terdapat nilai-nilai kehidupan yang membentuk karakter masyarakat adat, mulai dari kebersamaan, saling membantu hingga menjaga keseimbangan dengan alam,” ujarnya.
Sementara itu Junaidi mengaku kagum dengan konsistensi masyarakat Dayak Paramasan dalam mempertahankan tradisi di tengah derasnya arus modernisasi.
Menurutnya, budaya lokal merupakan kekayaan bangsa yang harus terus dirawat agar tidak tergerus perkembangan zaman.
“Aruh Adat mengajarkan persatuan, gotong royong, penghormatan kepada alam, dan rasa syukur. Nilai-nilai seperti inilah yang perlu diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari jati diri bangsa,” katanya.
Ia menyebut Aruh Adat memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya tanpa menghilangkan nilai sakral yang terkandung di dalamnya.
“Budaya dan ekonomi bisa berjalan beriringan. Dengan pengelolaan yang baik, tradisi seperti Aruh Adat dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat,” ucapnya.
Di kesempatan yang sama, Murjani menegaskan nilai-nilai yang hidup dalam Aruh Adat masih sangat relevan diterapkan di tengah kehidupan masyarakat modern.
Dr. Drs. Akhmad Murjani, SH, M.Kes., S.H., M.H.(foto; busu)
Menurutnya, semangat gotong royong, saling menghargai, menjaga persaudaraan, serta hidup berdampingan dengan alam merupakan modal sosial yang perlu terus dipertahankan.
“Budaya adalah perekat kebersamaan. Karena itu, menjaga tradisi bukan hanya tugas masyarakat adat, melainkan tanggung jawab seluruh anak bangsa,” tuturnya.
Aruh Adat Dayak Paramasan merupakan agenda budaya tahunan yang diisi dengan ritual adat, doa bersama, tarian tradisional, serta berbagai kegiatan kebersamaan sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen.
Tradisi ini tetap dipertahankan oleh masyarakat Dayak Paramasan sebagai simbol identitas budaya sekaligus warisan leluhur yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Kehadiran DPP FKPWK dalam kegiatan tersebut diharapkan semakin memperkuat sinergi antara organisasi kemasyarakatan, masyarakat adat, dan pemerintah dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.