Banjarmasin, iloenxnews.com || Pembina Gema Satu Do’a Center Bogor, Abi Dodi Syihab mengatakan ada Tiga Indera Ruh, yakni Mendengar, Melihat, dan Memikirkan. Abi menyitir kepada tafsir QS 32:9: Allah meniupkan ruh, lalu memberikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani.

Hal ini disampaikan Abi Dodi Syihab dalam Kajian Kecerdasan Al-Qur’an yang digelar di Rumah Al-Qur’an Matahati, Jalan Simpang Gusti Raya Nomor 13 RT. 34, Kelurahan Alalak Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalsel, malam Selasa (17/11/2025).

Selanjutnya, Pembina Ma’had Quranic Indonesian School (QINSHOO) Bogor ini lalu mengajak menjalani proses belajar dengan tiga sikap sederhana: DIPETAKAN, yakni Diam, Perhatikan, Pertanyakan. Kesadaran akan lahir ketika tiga hal ini digunakan secara bersamaan.

Ada momen-momen tertentu dalam hidup ketika satu kalimat sederhana mampu meruntuhkan kebiasaan lama dalam berpikir.
“Jika ingin menjadi manusia yang sempurna, potonglah ekormu,” tegas Abi Dodi.
Frasa ini bukan metafora biasa. Ia merujuk pada sesuatu yang jauh lebih tua dari pengalaman manusia mana pun — perjalanan pertama kita sebagai sperma.

Kita Semua Pernah Menjadi Pejuang
Dalam kajian sebelumnya Abi Dodi menjelaskan istilah ‘ekor’ dengan gambaran biologis: sperma yang bergerak, bertarung, dan berjuang memasuki sel telur. Namun satu fakta penting sering terlupakan: Ketika sebuah sperma berhasil masuk, ekornya terlepas.

Ekor itu — simbol energi duniawi yang mendorongnya maju — justru harus hilang agar kehidupan dimulai.
Dari sinilah lahir filosofi “potong ekor”: untuk naik ke level yang lebih tinggi, manusia harus meninggalkan hal-hal yang menahannya di bawah.

Delapan ekor yang mengikat manusia menurut Abi Dodi manusia membawa banyak “ekor” yang paling sering membelenggu: Bapak, Rumah, Anak, Saudara, Istri, Keluarga, Harta dan Bisnis.

Ayat QS 3:14 menjelaskan bahwa manusia memang dikelilingi oleh godaan: keluarga, kekayaan, dan segala bentuk perhiasan dunia.
Namun ketika semua itu menjadi pusat hidup, manusia kehilangan arah kepalanya — ruhnya.

Untuk mengendalikan ekor, Abi memberikan konsep ASI: Al-Qur’an: membaca satu juz sehari, Sholat: tepat waktu dan Infaq: dengan ikhlas.
ASI, menurutnya, adalah makanan ruh. Dan rahasianya: “semua itu ada di Baitullah — tempat di mana ekor benar-benar dilepas.”

Istighfar sebagai Pemotong Ekor
Dalam sesi yang penuh kejujuran, Abi Dodi mengatakan: “Istighfar itu sulit. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tetapi kalau kau masih mau beristighfar… itu tandanya Allah masih mengingatmu. “Ketika engkau istighfar, engkau sedang memotong ekormu.”

Namun istighfar bukan perkara ringan. Ia membutuhkan kesadaran bahwa selama ini manusia terlalu sering membela ekor dibanding kepala.

Abi Dodi menyampaikan kalimat yang membuat diri kita merenung. “Yang mengikatmu bukan duit, yang mengikatmu adalah ayat-ayat Allah,” tegasnya.

Hidup bukan lagi tentang apa yang ingin kita genggam, tetapi tentang apa yang berani kita lepaskan. Dan untuk pertama kalinya, kita pahami, perintah “Potong Ekor” bukanlah perintah untuk meninggalkan dunia, melainkan untuk melepaskan dunia dari dada, agar kita bisa kembali berjalan ringan menuju Allah.

Refleksi “Potong Ekor” mengingatkan kita bahwa perjalanan manusia bukan tentang menambah dunia, tetapi melepaskannya. Bukan tentang memperkuat ekor, tetapi menyelamatkan kepala.

Abi Dodi juga memberikan tips HMM. Hentakkan kaki. Mandi dengan air dingin. Minum air dingin. Hentakan — Mandi — Minum.

Tiga hal yang terlihat sangat fisik, namun sejatinya adalah perintah untuk mengembalikan manusia pada fitrah: kekuatan yang bersumber dari ketaatan.

“Semoga kita diberi kekuatan untuk benar-benar memotong ekor dunia, dan kembali menjadi hamba yang hidup bersama cahaya-Nya. Pada akhirnya, perubahan tidak pernah lahir dari menunggu — tetapi dari berani memotong ekor yang menghambat langkah, lalu berjalan bersama dalam kebaikan. Dari sinilah gerakan tumbuh, dan masa depan pelan-pelan menemukan bentuk terbaiknya,” pungkas Abi Dodi Syihab.
(ichal iloenx)
