Banjarbaru, iloenxnews.com || Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) terus melakukan pemantauan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. Berdasarkan data kebencanaan periode 1 Januari hingga 27 Agustus 2026, tercatat sebanyak 2.019 kejadian karhutla dengan luas lahan terdampak mencapai 9.943,26 hektare.

Kepala BPBD Provinsi Kalimantan Selatan, Ronny Eka Saputra, mengatakan data tersebut menjadi gambaran kondisi karhutla di wilayah Kalimantan Selatan hingga 27 Agustus 2026. Pemantauan terus dilakukan dengan memperhatikan sebaran kejadian dan titik panas di berbagai kabupaten/kota.

“Data ini menjadi bahan pemantauan dan evaluasi dalam upaya pengendalian karhutla di Kalimantan Selatan. Penanganan terus dilakukan dengan mengutamakan wilayah yang terindikasi memiliki potensi kejadian kebakaran,” ujar Ronny.

Selain mencatat kejadian dan luas lahan terdampak, BPBD juga memantau sebaran titik panas atau hotspot sebagai salah satu indikator dalam mendukung upaya pengendalian karhutla. Hingga periode tersebut, tercatat sebanyak 12.791 titik hotspot di wilayah Kalimantan Selatan.

Secara kewilayahan, Kabupaten Tapin mencatat jumlah hotspot tertinggi dengan 3.777 titik, disusul Hulu Sungai Selatan sebanyak 2.050 titik dan Kabupaten Banjar sebanyak 1.765 titik. Sementara itu, hotspot juga terpantau di sejumlah daerah lainnya dengan jumlah yang bervariasi.

Dari sisi jumlah kejadian, Kota Banjarbaru tercatat sebanyak 406 kejadian, Kabupaten Banjar 381 kejadian, Kabupaten Tanah Laut 321 kejadian, Hulu Sungai Selatan 268 kejadian, serta Kabupaten Tapin 162 kejadian. Data tersebut menunjukkan sebaran kejadian karhutla terdapat di berbagai wilayah Kalimantan Selatan.

Untuk luas lahan terdampak, Kabupaten Banjar tercatat mencapai 2.244,22 hektare, disusul Kabupaten Tanah Laut 1.797,95 hektare, Kota Banjarbaru 1.507,81 hektare, Hulu Sungai Selatan 1.398,33 hektare, dan Kabupaten Tapin 953,40 hektare.

Ronny menegaskan, pemantauan terhadap perkembangan karhutla akan terus dilakukan bersama unsur terkait. Informasi mengenai kejadian di lapangan dan indikasi titik panas menjadi bagian penting dalam menentukan langkah penanganan dan pengendalian secara cepat.

“Kami mengimbau masyarakat untuk ikut berperan dalam mencegah terjadinya karhutla. Jangan melakukan pembakaran lahan, dan segera melaporkan apabila menemukan adanya kebakaran agar dapat ditangani sedini mungkin,” kata Ronny.

Data BPBD tersebut bersumber dari pemantauan dan informasi kebencanaan yang ditampilkan dalam peta sebaran kejadian karhutla dan hotspot Kalimantan Selatan, dengan sumber hotspot dari SIPONGI Kementerian Kehutanan serta data satelit NASA-MODIS, NASA-SNPP, dan NASA-NOAA20.

BPBD Provinsi Kalimantan Selatan mengajak seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya di wilayah yang memiliki potensi karhutla, serta bersama-sama menjaga lingkungan agar kebakaran hutan dan lahan dapat dicegah dan dikendalikan secara optimal.
(MC Kasel/Fuz)
