Banjarmasin, iloenxnews.com || Setelah melakukan rapat dadakan di Janji Jiwa Citraland bersama Pembina Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Forum Kerukunan dan Pemerhati Warga Kalimantan (FKPWK), Junaidi, Ketua Umum DPP FKPWK Advokat H. Rachmad Fadillah, SH, bersama anggotanya Soleh Priyanto, SH didampingi awak media, langsung mendatangi lokasi penampungan para korban KM Virgo Transport 8 di Kota Banjarmasin.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi para korban selamat sekaligus mendengarkan keluhan dan kebutuhan mereka setelah kehilangan harta benda dalam musibah kapal yang terjadi di perairan Laut Jawa.

Rombongan langsung mendatangi sejumlah lokasi penampungan, di antaranya di kawasan Jalan KS Tubun dan Jalan RE Martadinata, Banjarmasin.
Kehadiran FKPWK Kalsel mendapat respons positif dari para penyintas yang tengah menghadapi situasi sulit. Sebagian korban bahkan mengaku tidak lagi memiliki pakaian, uang, maupun barang pribadi karena seluruhnya hilang saat kapal terbalik di Laut Jawa.

Di salah satu penampungan di Jalan KS Tubun Banjarmasin, seorang perempuan sesepuh aktifis Forum Masyarakat Sunda Ngumbara (FORMAS), Raden Ria Supenrijaty mengungkapkan kepeduliannya terhadap korban, terutama mereka yang berasal dari Jawa Barat. Di tempat ini ada 11 warga Jawa Barat yang diantaranya bekerja di dapur KM Virgo Trasport 8.

Ia mengatakan, masih ada korban yang belum ditemukan. Kondisi tersebut membuat dirinya merasa perlu mengetahui keadaan para korban asal Jawa Barat yang saat ini berada di Banjarmasin.
“Saya harus memperhatikan mereka. Mereka tidak ada keluarga, tidak ada siapa-siapa,” ujarnya.

Ibu Ria menjelaskan, perhatian tersebut bukan bermaksud membeda-bedakan suku. Sebagai komunitas masyarakat Sunda yang tinggal di Kalimantan Selatan, dirinya merasa terpanggil untuk membantu sesama warga Sunda yang menjadi korban.

Ia juga berharap para korban yang berhasil selamat dapat kembali menjalani kehidupan dengan baik dan menjadikan musibah tersebut sebagai pengalaman yang berharga.
“Semoga kalian anak-anak yang selamat bisa bahagia terus. Kejadian ini menjadi pelajaran yang berharga,” tuturnya.

Sementara itu, korban selamat asal Banten bernama Faisal menceritakan detik-detik menegangkan ketika KM Virgo Transport 8 mulai mengalami kecelakaan.
Faisal mengatakan saat itu dirinya berada di bagian belakang kapal. Ketika kondisi kapal semakin memburuk, ia berusaha keluar dan mengikuti pergerakan kapal hingga akhirnya kapal tenggelam.

Di tengah laut, Faisal melihat banyak penumpang meminta pertolongan. Ia bersama sejumlah rekannya berusaha bertahan hidup setelah terjun ke laut.
Faisal juga mengaku melihat langsung sejumlah kejadian tragis terhadap penumpang yang berada di air. Kesaksian tersebut menggambarkan kondisi mencekam yang dialami para korban saat berusaha menyelamatkan diri.

Menurut Faisal, ia mengumandangkan adzan di atas sisa buritan kapal yang sudah terbalik, bersama rekannya yang masih dapat bertahan hingga mendapatkan pertolongan keselamatan dari Allah SWT menuju ke kapal nelayan.

Selanjutnya, di lokasi penampungan di Jalan RE Martadinata, FKPWK Kalsel menemui Haryono, korban asal Semarang. Di tempat ini ada 22 orang penyintas yang kebanyakan berasal dari Lamongan (Jawa Timur), Cilacap dan Purbalingga (Jawa Tengah) yang ingin mengadu nasib sebagai pekerja sawit di Kalimantan.

Haryono menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Kalimantan dan pihak-pihak yang telah memberikan bantuan kepada dirinya bersama rombongan.
Ia mengatakan, kondisi mereka setelah musibah cukup memprihatinkan karena uang, pakaian, dan barang-barang pribadi ikut hilang bersama kapal.
“Untuk biaya hidup terus terang sudah tidak ada sama sekali. Pakaian, segala uang sudah hilang di kapal semua,” ungkap Haryono.

Ia pun kembali menyampaikan apresiasi atas kepedulian warga Kalimantan yang memberikan bantuan kepada para korban selama berada di Banjarmasin.
“Terima kasih yang sebanyak-banyaknya atas bantuan dari bapak-bapak semua, khususnya warga Kalimantan,” katanya.

Ketua Umum DPP FKPWK Adv. H. Rachmad Fadillah, SH, didampingi Soleh Priyanto, SH, mengatakan pihaknya datang langsung ke penampungan sebagai bentuk kepedulian terhadap para korban.
Menurutnya, persoalan korban KM Virgo Transport 8 perlu menjadi perhatian bersama, terutama menyangkut kondisi para penyintas dan keluarga korban yang masih menunggu kepastian mengenai anggota keluarganya.

“Kami selaku Ketua Umum DPP FKPWK akan memperhatikan kondisi para korban,” ujar Rachmad.
Ia menyampaikan, pemerintah dan instansi terkait merupakan pihak yang memiliki kewenangan serta kompetensi dalam menentukan langkah penanganan selanjutnya.

FKPWK Kalsel, lanjutnya, akan melihat perkembangan kondisi para korban dan berupaya menyampaikan aspirasi serta kebutuhan mereka kepada pihak terkait.
Seperti diketahui, KM Virgo Transport 8 mengalami kecelakaan di perairan Laut Jawa sekitar kawasan Masalembo pada Ahad dini hari, 13 September 2026.

Kapal ro-ro penumpang berukuran 8.540 GT milik PT Virgo Karya Shipping itu tengah melakukan perjalanan dari Surabaya menuju Banjarmasin. Kapal mengalami kemiringan ekstrem (listing) sebelum akhirnya terbalik di tengah kondisi ombak dan cuaca buruk.
Musibah tersebut menyebabkan sejumlah penumpang menjadi korban, sementara para penyintas kemudian dievakuasi dan mendapatkan penanganan di sejumlah lokasi di Banjarmasin.

Di tengah proses penanganan musibah, FKPWK Kalsel memilih hadir langsung di tengah para korban. Tidak hanya melihat kondisi mereka, FKPWK juga mendengarkan kesaksian dan kebutuhan para penyintas yang kini masih menghadapi dampak langsung dari tragedi tersebut.

Bagi FKPWK Kalsel, kehadiran di lokasi penampungan menjadi bagian dari kepedulian warga Kalimantan terhadap para korban, khususnya mereka yang kehilangan harta benda dan masih menantikan kabar anggota keluarga yang belum ditemukan.

Alhasil, kedatangan FKPWK ke 2 lokasi penampungan korban KM Virgo Transport 8 tersebut dirasakan para penyintas bak mendapatkan ‘suplemen’ segar. Mereka mendapatkan baju dan celana baru serta dana untuk kebutuhan hidup sambil menunggu progres perkembangan dari pemerintah.
(ichal iloenx)
