Banjar, iloenxnews.com || Dalam Islam, lisan diibaratkan pedang bermata dua. Bahaya lisan sangat besar karena mampu menjerumuskan seseorang ke dalam dosa besar, seperti fitnah, ghibah (menggunjing), adu domba, dan kebohongan. Jika tidak dijaga, ucapan bisa menghapus seluruh amal kebaikan dan menjatuhkan pelakunya ke dalam neraka.

Hal ini disampaikan oleh Al Ustadz Muhammad Rijal Fathoni, S.Pd.I pada acara Pengajian Rutin di Majelis Ta’lim Raudhatul Muhibbin, di Kediaman H. Junaidi, Jalan Martapura Lama Paal 7,8 Komplek Persada Raya 2 Jalur 4, Nomor 9 RT. 11 B, Kelurahan Sungai Lulut, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kamis (9/7/2026) malam bertepatan dengan 25 Muharram 1448 H.

Berikut adalah beberapa bentuk bahaya lisan menurut syariat Islam, lanjut Ustadz Rijal.
Menyebarkan Fitnah dan Dusta:
Berkata bohong atau menuduh orang lain tanpa bukti. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa menyampaikan semua yang didengar sudah cukup menjadi bukti kedustaan seseorang (HR. Muslim)

Ghibah dan Namimah:
Menggunjing aib saudara sendiri (ghibah) dan mengadu domba antar sesama (namimah) yang dapat memicu perpecahan.
Perkataan Kotor dan Menyakiti: Mencaci, melaknat, atau menghina orang lain, yang mana dampaknya bisa terus diingat dan menyakiti hati.Untuk menghindari bahaya tersebut, umat Islam sangat dianjurkan untuk berpikir sebelum berbicara.

Sebagaimana panduan dari Rasulullah ﷺ: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sementara itu Junaidi, selaku Ahlul Bait saat ditemui usai acara mengungkapkan kegembiraannya atas suksesnya pengajian rutin bulanan kali ini. “Terima kasih kepada para jamaah semuanya tak terkecuali, yang telah menyempatkan hadir di acara rutin bulanan ini, tanpa kehadiran kalian acara ini tak akan berjalan lancar,” kata Pembina Dewan Piminan Pusat (DPP) Forum Kerukunan dan Pemerhati Warga Kalimantan (FKPWK) ini.

Malam ini, lanjut Junaidi, kita berkumpul di dalam majelis ini dengan niat ikhlas dan tulus menuntut ilmu sekaligus masih di momen Muharram 1448 H, agar ada hikmah yang bisa dipetik tentunya.
“Acara pengajian rutin bulanan ini sebagai bentuk rasa syukur dan cinta, pengingat, dan sebagai alat meneladani sikap dan akhlak junjungan kita yakni Nabi Muhammad SAW, juga kita harus menjaga silaturahmi serta mengenalkannya kepada generasi muda lewat pembacaan shalawat, ceramah, dan lainnya,” sambungnya.

“Diharapkan dengan adanya pengajian rutin bulanan ini kita kembali memiliki semangat juang dalam beribadah kepada Allah, dan mempertahankan akidah dan akhlak kita,” pungkas Junaidi.
Salah seorang anggota keluarga, Noorlaila mengatakan dengan adanya pengajian rutin bulanan yang digelar oleh Junaidi ini, silaturahmi antar keluarga bisa terjalin dengan rutin juga.

“Karena jika tanpa ada undangan pengajian rutin bulanan ini, kami sulit terhubung secara tatap muka antar keluarga kami yang tersebar di Banjarmasin, Kabupaten Banjar dan sekitarnya,” ujar Laila.
Acara ditutup dengan doa bersama dipimpin Habib Husein bin Ali Assegaf.
(ichal iloenx)
