Banjarmasin, iloenxnews.com || Peristiwa Kerusuhan 23 Mei 1997 di Banjarmasin—yang lebih dikenal dengan tragedi Jumat Kelabu— sampai sekarang diklaim tidak memiliki satu tokoh tunggal yang secara resmi ditetapkan sebagai dalang. Hingga kini, akar penyebab dan dalang di balik kerusuhan tersebut masih menjadi polemik dan misteri yang belum diusut tuntas.

Namun, berdasarkan narasi sejarah dan kesaksian yang beredar di masyarakat pada masa Orde Baru, ada pihak-pihak yang sering dikaitkan atau dikambinghitamkan pada peristiwa tersebut. Salah satunya, yang sempat dituduh sebagai aktor intelektualnya adalah Mona Herliani.

Perempuan yang akrab disapa Bunda Mona ini kala itu bersama suaminya yang juga aktivis dan wartawan, Muhammad Faisal ikut menggelar kampanye dengan nama komunitas “Mega Bintang”.

“Mega Bintang” adalah istilah bersejarah yang merujuk pada gerakan atau aliansi politik akar rumput antara simpatisan PDI pro-Megawati dan pendukung Partai Persatuan Pembangunan (PPP) untuk melakukan perlawanan terhadap rezim Orde Baru pada Pemilu 1997.

Massa pendukung Megawati yang kehilangan wadah kemudian menyeberang dan berkoalisi secara kultural dengan pendukung Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Lambang PPP saat itu adalah Bintang, bukan lagi Ka’bah, sementara Megawati identik dengan Megawati. Penggabungan massa ini melahirkan gerakan yang dinamakan “Mega Bintang” (Megawati dan Bintang).

Ujung-ujungnya, karena Faisal adalah koordinator “Mega Bintang” di Kalimantan Selatan, maka tuduhan mengarah kepada kedua pasangan suami istri ini. Faisal Engot -sapaan akrabnya- sempat diamankan oleh pihak Komando Distrik Militer (Kodim) 1007 Kota Banjarmasin. sedangkan Bunda Mona terus berkampanye di luar dengan membagikan ratusan kaos berwarna kombinasi merah hijau kepada massa pendukungnya.

Akhirnya, Bunda Mona diperiksa juga dan bukan sebagai saksi lagi. Kali ini ia dituduh sebagai aktor intelektualnya dan ikut diamankan di Kodim 1007 Banjarmasin, Jalan S. Parman Nomor 5 Kelurahan Pasar Lama, Kecamatan Banjar Barat (kala itu, sebelum jadi Kecamatan Banjarmasin Tengah) yang tak jauh dari tempat tinggalnya, karena dianggap terus berkampanye Mega Bintang.

“Bunda dan suami sempat di bawa ke Mitra Plaza sampai akhirnya bisa lolos. Di situ kami menyaksikan penembak misterius yang membantai penjarah di Mitra Plaza,” kenang Bunda Mona kepada iloenxnews.com

Pasca rusuh, pasutri ini selalu dicari dan diburu oleh aparat dan media, sampai akhirnya mereka menutup diri dan hingga tenang baru keluar ke publik.

Kini, 29 tahun sudah berlalu tanpa penjelasan resmi dari pemerintah. Bunda Mona matanya masih menerawang menceritakan kisah kelam bersama almarhum suaminya tersebut.

Ada 3 poin yang disampaikan Bunda Mona untuk kita semua:
- Rawat Kerukunan: Menjaga semangat Bubuhan Banjar yang rukun, saling menghargai, dan menjunjung tinggi toleransi di tengah keberagaman etnis dan agama.

- Bijak Bermedia Sosial: Himbauan keras untuk menghindari penyebaran hoaks, ujaran kebencian, atau provokasi yang berpotensi memicu konflik SARA.

- Utamakan Dialog: Menyelesaikan setiap perbedaan pendapat, masalah sosial, atau dinamika politik melalui musyawarah dan jalur hukum yang berlaku, bukan dengan kekerasan.
(ichal iloenx)

