Banjarmasin, iloenxnews.com || Penentuan awal Ramadhan 1447 Hijriah masih menunggu keputusan pemerintah setelah hasil pemantauan hilal di Kalimantan Selatan menunjukkan posisi bulan belum memenuhi kriteria visibilitas.

Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Kalimantan Selatan melaksanakan kegiatan hisab rukyat di Gedung Rumah Sakit Amanah Medical Centre (AMC), Jalan Haryono MT Banjarmasin, Selasa (17/2/2026) jelang Maghrib, sebagai bagian dari pemantauan hilal nasional yang dilakukan serentak di berbagai daerah.

Berdasarkan perhitungan astronomis tim hisab rukyat, ijtimak terjadi pada pukul 20.01 WITA. Saat matahari terbenam pada pukul 18.42 WITA, posisi bulan justru telah lebih dahulu terbenam pada pukul 18.37 WITA. Data menunjukkan tinggi hilal berada pada minus 1 derajat 09 menit 11 detik di bawah ufuk dengan elongasi sekitar 1 derajat 11 menit 45 detik.

Kondisi tersebut menandakan hilal belum memenuhi kriteria imkanur rukyat yang ditetapkan negara-negara anggota MABIMS, yakni tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Secara astronomis, peluang terlihatnya hilal di wilayah ini dinilai sangat kecil.

Hasil hisab menjadi bahan pertimbangan awal dalam proses penetapan awal Ramadhan, namun keputusan resmi tetap menunggu sidang isbat Kementerian Agama RI yang menggabungkan laporan rukyat dari seluruh Indonesia.

Kegiatan pemantauan hilal di Banjarmasin turut melibatkan unsur pemerintah daerah, ulama, pengadilan agama, Badan Hisab Rukyat, serta akademisi dan media massa. Pemerintah daerah menilai kolaborasi lintas lembaga penting untuk memastikan penetapan awal Ramadhan dapat diterima masyarakat secara luas.

Secara perhitungan awal, 1 Ramadhan 1447 H diperkirakan berpotensi jatuh pada 19 Februari 2026. Meski demikian, kepastian awal puasa tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan diumumkan pemerintah pusat setelah seluruh data rukyat nasional dihimpun.
(tim/red)
